PEMANFAATAN TANAH VULKANIK, LIMBAH KEMIRI DAN BIOMATERIAL MENJADI IPAL MSL-M (Multy Soil Layering Melafu) UNTUK MENGOLAH LIMBAH CAIR HOME INDUSTRI TAHU DAN DOMESTIK
Aflizar*, Azwar Rasyidin**, Amrizal Saidi**
*Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh, 26271
**Fakultas Pertanian Universitas Andalas, Limau Manis
Penelitian inii Didanai Oleh Hibah Bersaing DIKTI tahun 2007.
Abstrak
Tanah Vulkanik dan biomaterial seperti arang kulit kemiri, sekam geotekstil, batu bara, batu bata dibuat menjadi alat untuk mengolah limbah cair home industri Tahu dengan metoda Multy Soil Layering System (MSL) dan alatnya diberi nama MSL-Melafu (MSL-M)
MSL-M merupakan modifikasi dari MSL-sistem yang telah dikembangkan oleh T.Masunaga dan T.Wakatsuki di Shimane University Japan. MSL-Melafu terdiri dari balok campuran tanah vulkanik, arang, pelet besi dan lapisan permeabel berupa batu bara, batu bata, arang kulit kemiri dan campuran sekam dengan arang tempurung kelapa. Komponen campuran tanah dan lapisan permeabel sangat tergantung dari komponen sumber alam lokal tetapi diperkaya dengan pelet besi. Limbah cair berasal dari Home industri Tahu dan Domestik Reston. Limbah cair dimasukan dalam MSL-M dengan tenaga pompa. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa
(1) MSL-M (Multy Soil Layering Melafu) untuk mengolah Limbah Cair dan Home Industri Tahu dapat dibuat dari dengan struktur Batu Bata dengan komposisi Tanah Campuran (terdiri dari Tanah Vulkanik, Arang Tempurung kemiri, arang tempurung Kelapa dan pelet besi) dan lapisan permeable dari biomaterial (terdiri dari arang kulit kemiri (1A, 6A), arang tempurung kelapa(1B), abu sekam padi(2B), serbuk gergaji(2A), batu bata(3B,4B,6B), tongkol jagung(3A), batu bara(4A) , sekam (5B) dan Jerami(5A)).
(2)Kondisi optimum penyerapan polutan berdasarkan baku mutu dalam limbah cair home industri tahu dimiliki oleh MSL-M2B>MSL-M2A>MSL-M5A>MSL-M4B>MSL-M6B
(3)Efisiensi penghilangan polutan dalam Limbah cair Home industri tahu oleh MSL-M2B>MSL-M2A>MSL-M5A>MSL-M4B>MSL-M6B untuk parameter BOD(68,6%-86,1%), COD(97,2%-98,3%), TSS(96,7%-99,3%), T-N(87,75%-98,4%), T-P(53,0%-95,3%), NO2-N(93,8%-98,4%), NO3-N(94%-98%).
(4) Efisiensi penghilangan polutan dalam Limbah cair domestic Rumah Makan oleh MSL-M1A>MSL-M2B>MSL-M3B>MSL-M2A untuk parameter BOD(82,2%-99,2%), COD(82,5%-98,9%), TSS(15,6%-76,6%), T-N(76,48%-98,14%), T-P(83,2%-98,4%), NO2-N(59,01%-96,83%), NO3-N(59,0%-96,8%).
Key word : MSL-M3. Tanah Campuran, Limbah cair Domestik home industri Tahu, limbah Domestik Restoran
PENDAHULUAN
Masalah Limbah dewasa ini telah menjadi isu yang sangat urgen dan butuh penemuan IPAL baru untuk solusi pemecahannya karena limbah itu baik dalam bentuk padat, cair dan sludge yang dihasilkan oleh industri, peternakan dan petani , terutama pada negara berkembang khususnya wilayah perkotaan dan pedesaan dimana limbah cair telah menimbulkan efek merusak pada lingkungan dan kesehatan manusia. Hal ini terjadi disebabkan sulitnya manajemen pemprosesan limbah serta butuh ilmu pengetahuan dan teknologi khusus tentunya dengan biaya yang sangat mahal seperti metoda aktifasi sludge, metoda bio-membran, absorbsi kimia dan filtrasi fisik namun metode ini mahal dan butuh ilmu khusus dalam operasionalnya maka limbah cair yang berasal dari home industri dan Domestik ini tidak juga diproses atau dimurnikan sehingga telah berdampak merusak pada manusia dan lingkungan.
Kontaminan dapat dikelompokan secara sederhana kedalam sifat non-hazardous dan hazardous tergantung dari pada tingkat pengaruhnya pada kesehatan manusia dan lingkungan. Kontaminan bahan non hazardeus termasuk bahan organik seperti BOD (Biological Oksigen Demand) atau COD (Chemical Oksigen Demand), nitrogen dan pospor. Zat kontaminan bersifat hazardous termasuk kimia beracun seperti senyawa organik halogen seperti dioxin, PCBS (senyawa polichlorinated biphenyl ), PCE (tetrachloroethylene) dan logam berat seperti Cd, Pb, As,Hg ,dll) (Masunaga et al, 1998)
Penerapan Konsep pengolahan limbah cair telah mulai digalakan sejak tahun 1990-an, melalui lahirnya Undang-Undang Lingkungan Hidup 1997 dengan penetapan baku mutu limbah cair yang diperbolehkan dihasilkan oleh Industri atau domestik, namun sampai saat ini masih banyak industri atau domestik menghasilkan limbah cair melebihi batas maksimum baku mutu yang ditetapkan pemerintah, tanpa peduli dengan pencemaran Lingkungan Hidup maka industri atau domestik tetap membuang limbah cairnya ke perairan sungai dan laut. Di Sumatera Barat hampir seluruh industri kecil, industri besar, restoran, peternakan, pasar rakyat dan rumah tangga membuang semua limbah cairnya ke sungai atau laut tanpa diolah terlebih dahulu. Menurut data dari Departemen Perindustrian dan Perdagangan (2001), jumlah industri kecil makanan di Sumatera Barat sebanyak 2365 home industri. Penyebabnya adalah mahalnya harga teknologi dan harga IPAL untuk mengolah limbah cair itu dan belum sampainya informasi bahaya yang ditimbulkan oleh limbah cair itu kemasyarakat, akibatnya adalah terjadinya pencemaran sungai dengan matinya ikan-ikan serta masyarakat yang tinggal disepanjang sungai mengalami gatal-gatal dan penyakit lainnya.
Kematian masal ikan, udang, kepiting, kerang dan remis di teluk Jakarta Mei 2004, diikuti didaerah lainnya dimana 100 warga disekitar Teluk buyat Sulawesi Utara keracunan logam berat arsen (As) dan mercuri (Hg) pada juli 2004, salah satu dampak negatif pembuangan limbah cair industri atau domestik ke perairan tanpa dilakukan proses pengolahan terlebih dahulu.
Penemuan bahan alam yang lebih murah untuk mengabsorpsi racun dalam limbah cair sebagai pengganti bahan kimia yang mahal seperti tawas, kapur, karbon aktif dan polimer menjadi komponen penting dalam konservasi alam dan manusia terhadap bahaya limbah cair dan oleh sebab itu pencarian material alam dan meningkatkan potensi ekonomisnya sebagai penetral zat kimia beracun dalam limbah cair menjadi suatu keharusan. Hal ini didukung oleh pasal 43 (1) jo pasal 45 Undang-Undang nomor 23 Tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup yang mengisyaratkan pentingnya ditemukan material dan IPAL pengolah limbah cair bersifat ekomonis, efisien dalam manajemen dan operasional
Penggunaan Tanah Vulkanik, limbah kemiri dan biomaterial berpotensial sebagai penetral polutan menjadi suatu komponen penting dalam treatment limbah cair yang lebih ekonomis. Tanah Vulkanik adalah salah satu tanah yang berpotensi sebagai media pengkhelat zat racun ( Wakatsuki et al, 1993) sedangkan arang tempurung kemiri mempunyai sifat baik sebagai pengabsorpsi logam berat (Munaf et al, 1998). Tanah Vulkanik, arang kemiri dan biomaterial dalam IPAL MSL-M dapat berperan dengan baik menetralkan zat polutan dalam limbah cair maka penggunaan bahan kimia yang mahal sebagai penetral zat polutan dalam limbah cair industri atau domestik dapat digantikan dengan demikian limbah cair dapat diolah dengan biaya operasional dan manajemen yang murah dalam dunia usaha industri atau domestik sebab ketersediaan material ini sangat banyak di Sumatera Barat dimana data survei Rahzarni (2002) di industri kemiri Batang Tabit Payakumbuh terdapat limbah tempurung kemiri sekitar 4 ton perminggu dan umumnya dibuang atau jadi kayu bakar sedangkan sumber Tanah Vulkanik banyak tersebar di sekitar Gunung Api yaitu Gunung Merapi, Gunung Singgalang dan Gunung Tandikat di Padang Panjang, Gunung Sago di Payakumbuh, Gunung Talang di Solok dan Gunung Pasaman dan Talamau di Pasaman Barat.
Pencemaran lingkungan oleh limbah cair saat ini merupakan salah satu dampak negatif revolusi hijau yang telah dikemukakan oleh ahli tahun 1980-an bahkan Voltera (1933) mengingatkan perlu sekali penerapan Agroteknologi untuk mengantisipasi penurunan kwalitas lingkungan akibat revolusi hijau yang menekankan kepedulian terhadap ekologi, ekonomi dan kemerataan dalam penerapan. Berdasarkan hal tersebut diatas pemanfaatan Tanah Vulkanik, limbah kemiri dan biomaterial untuk mengolah limbah cair merupakan bentuk Agroteknologi.
Berdasarkan uraian diatas, maka dipandang perlu untuk melakukan penelitian pengolahan limbah cair yang lebih ekonomis dan sederhana dengan metode dan IPAL MSL-M yang masih belum banyak diteliti guna mengolah limbah cair home industri dan domestik yang banyak terdapat di Sumatera Barat dan Indonesia umumnya.
Dari laporan Aflizar et al (2005) bahwa sebuah keluarga sederhana menghasilkan limbah domestik 0,5 m3 per hari sedangkan home industri tahu menghasilkan limbah cair 0,25 m3 per hari dan kwalitas limbah cairnya melebihi batas baku mutu. Umumnya limbah cair domestik dan home industri dibuang langsung ke tanah atau selokan dan bermuara kesungai dan laut, bila kebiasaan ini terus dibiarkan maka akan membahayakan pada lingkungan, binatang dan manusia untuk itu perlu sesegera mungkin dilakukan pencegahan dengan mengolah limbah cair itu sebelum dibuang ke perairan sampai standar baku mutu yang ditetapkan pemerintah.
Di Sumatera Barat hampir seluruh industri kecil, industri besar, restoran, peternakan, pasar rakyat dan rumah tangga membuang semua limbah cairnya ke sungai atau laut tanpa diolah terlebih dahulu. Penyebabnya adalah mahalnya harga teknologi dan harga alat untuk mengolah limbah cair dan belum sampainya informasi bahaya yang ditimbulkan oleh limbah cair itu, akibatnya adalah terjadinya pencemaran sungai dengan matinya ikan-ikan serta masyarakat yang tinggal disepanjang sungai mengalami gatal-gatal dan penyakit lainnya.
Penemuan bahan alam yang lebih murah untuk mengabsorpsi racun atau kontaminan dalam limbah cair sebagai pengganti bahan kimia yang mahal seperti tawas, kapur dan polimer menjadi komponen penting dalam konservasi alam dan manusia terhadap bahaya limbah cair oleh sebab itu pencarian material alam dan meningkatkan potensi ekonomisnya sebagai penetral zat kimia beracun dalam limbah cair menjadi suatu keharusan. Hal ini didukung oleh pasal 43 (1) jo pasal 45 Undang-Undang nomor 23 Tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup yang mengisyaratkan pentingnya ditemukan material dan alat pengolah limbah cair bersifat ekomonis, efisien dalam manajemen dan operasional
Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh aflizar et al (2005) memanfaatkan tanah vulkanik dan biomterial, dimana semua material disusun seperti batubata berdasarkan metoda MSL-M (Multy Soil Layering Melafu) digunakan untuk mengolah limbah cair domestik ternyata hasilnya sangat efektif, dimana efisiensi penghilangan BOD (46,39%), COD (82,3%), TSS (79%), Total Nitrogen (67,92%) dan Total Pospor (30%) dengan dimensi alat 50 cm x 30 cm x 30 cm dan kecepatan pengolahan limbah cair domestik 243,3 – 1718,3 liter/m2/hari. Walaupun alat MSL-M ini efektif, namun alat MSL-M masih belum sempurna menghilangkan BOD, Total Nitrogen sehingga masih berpeluang besar untuk ditingkatkan kemampuanya dengan modifikasi alat dan materialnya.
Penelitian ini bermaksud (1) Membuat komposisi campuran tanah dari Tanah Vulkanik, arang kulit kemiri dan pelet besi serta lapisan permeabel dari biomaterial membentuk MSL-M, (2) Mendapatkan kondisi optimum penyerapan polutan dalam limbah cair home industri tahu oleh MSL-M ,(3) Analisa baku mutu limbah cair home indutri Tahu dan Domestik Rumah Makan pada inlet dan outlet MSL-M untuk menetapkan efisiensi MSL-M
BAHAN DAN METODA
Pelaksanaan Penelitian
Penelitian ini dilakukan secara bertahap, 1) tahap pertama adalah penumbukan biosorben arang tempurung kemiri; Arang Kulit kelapa, dan abu Sekam Padi serta pengambilan tanah vulkanis di sekitar Gunung Sago Payakumbuh 2) tahap kedua merekayasa bahan biomaterial dan tanah vulkanik dalam suatu alat sesuai dengan gambar . 3) tahap ketiga Pengambilan Limbah cair dari Home industri Tahu . 3) analisa Kualitas limbah cair Home industri Tahu sebelum dan sesuadah di proses dalam MSL-Melafu. Parameter yang diukur yaitu pH, ORP, suhu, BOD, COD, TSS, T-N, bibit Ikan survival laju alir dan volume limbah cair . Data dianalisa dengan statistik Korelasi yang diolah dengan Ms. Exel. Limbah cair home industri Tahu dikumpulkan dari Pabrik Tahu di Tanjung Pati, Kab. 5o Kota, Sumbar.
Percobaan ini dilakukan dengan menggunakan 6 rancangan IPAL MSL-M. Dimana setiap IPAL MSL-M dibedakan dari jumlah lapisan seperti terliihat pada Rancangan IPAL penelitian di laboratorium
1. MSL-M 1a-b = (Tanah Campuran dan Lapisan Permeabel dari (a) Arang Tempurung Kemiri dan (b)Arang Tempurung Kelapa)
2. MSL-M 2a-b = (Tanah Campuran dan Lapisan Permeabel dari (a)Serbuk Gergaji dan (b)Abu Sekam)
3. MSL-M 3a-b = (Tanah Campuran dan Lapisan permeabel dari (a)Batu Bara dan (b) Marmer)
4. MSL-M 4a-b = (Tanah Campuran dan Lapisan permeabel dari (a)Batu Bara dan (b)Batu Bata)
5. MSL-M 5a-b = (Tanah Campuran dan Lapisan permeabel dari (a)Jerami Padi dan (b) Sekam Padi)
6. MSL-M 6a-b = (Tanah Campuran dan Lapisan permeabel dari (a)Tempurung Kemiri dan (b)Tempurung Kelapa)
Analisis Data
Untuk menguji pengaruh alat MSL-M terhadap kualitas air yang dianalisis dilakukan analisis koefisien korelasi (r ) dimana nilai berkisar +1 dan –1 dengan alat Ms. Exel. Dimana +1 artinya sebab meningkatnya faktor A karena diikuti meningnya faktor B. arti –1 yaitu sebab meningkat faktor A akibat menurunya faktor B, formulanya yaitu: Koefisien Korelasi antara dua parameter untuk melihat hubungan erat setiap parameter yang diuji
HASIL DAN PEMBAHASAN
Struktur dan Komposisi Lapisan Tanah Campuran MSL-M
MSL-M memiliki dua lapisan utama yaitu lapisan permeabel dan lapisan Tanah campuran. Penelitian ini telah menghasilkan produk water treatment untuk mengolah Limbah cair domestik (rumah Makan) dan Home Industri Tahu dimana bentuk, jenis material dan komponen penyusun serta menyajikan gambar material, ukuran, komposisi dari lapisan permebel dan tanah campuran berserta fungsi setiap material itu dalam pembersihan limbah cair domestik (rumak makan dan home industri tahu disajikan pada tabel 5 dan Tabel 6, dimana semua material ini berasal dari sumber daya alami payakumbuh dan Kab. 50 Kota.
Performa MSL-M (Multy Soil Layering Melafu)
Performan MSL-M 1A-B, MSL-M2A-B, MSL-M3A-B, MSL-M4A-B, MSL-M5A-B dan MSL-M6A-B setelah instalasi dan beroperasi mengolah Limbah Cair Rumah Makan dan Tahu dapat dilihat pada Gambar 4, Gambar 5 dan Gambar 6.
Gambar 7. menunjukan pengaruh dari MSL-M dimana Warna dan bau limbah setelah diolah MSL-M jauh lebih terang dan tidak berbau dibandingkan sebelum diolah. Setelah di instalasi MSL-M terbukti bahwa material dari limbah pertanian yang terdiri dari jerami, Arang tempurung Kelapa, Arang tempurung kemiri, Jerami, Serbuk Gergaji , sekam dan abu sekam dimana biasanya biomaterial ini terbuang percuma dapat dimanfaatkan lagi untuk mengolah limbah cair Rumah Makan dan Home Industri tanpa melakukan penambahan bahan kimia sama sekali.Biomaterial dari Batubara, Tanah juga berfungsi sama baiknya dengan biomaterial dari Limbah pertanian. Sistim pengaliran limbah sebelum diolah MSL-M pada Gambar 8. Kwalitas limbah setelah diolah MSL-M akan di bahas pada bab Berikut.
Limbah Cair Home Industri Tahu memiliki nilai COD jauh lebih tinggi disebabkan oleh tingginya kandungan protein dalam limbah Tahu. Dan sesuatu yang luar biasa MSL-M 2A dan MSL-M 2B tetap mampu mengolah limbah cair itu sampai memenuhi standar baku mutu. Hal ini disebabkan oleh biomaterial itu mempunyai kemampuan menetralisir zat polutan dan tanah vulkanik memiliki sumber Mikroorganisme yang besar yang mampu menetralisir dan mendekomposisi zat polutan dan bahan organik. Menurut Trosvik (1990) cit Wakatsuki (2000) menyatakan bahwa memperkirakan bahwamikroorganisme lebih dari 100 juta populasinya dan ribuan spesies hidup dalam 1 gram tanah.
Tabel 1
Dari Tabel 1dan Tabel2 . Mengungkapkan bahwa MSL-M 1A dan MSL-M1B mampu dan efektif merobah ORP (oksidasi reduksi potensial atau energi potensial sel) limbah cair domestik rumah makan dan Home industri Tahu secara alamiah, juga secara alamiah mampu merobah konsentrasi EC (daya hantar listrik) dimana erat hubungannya dengan tingginya kandungan polutan dalam limbah cair.
Tabel 1. Mengungkapkan bahwa MSL-M2A dan MSL-M2B mampu dan efektif merobah TGT (total garam terlarut) limbah cair domestik Rumah Makan dan home Industri Tahu secara alamiah. Juga secara alamiah mampu merobah suhu dimana erat hubungannya dengan kemampuan bertahan makluk hidup dalam air serta mampu dan efektif merobah pH limbah cair domestik rumah makan dan Home industri Tahu jadi mendekati netral secara alamiah tanpa
Tabel 2
penambahan bahan kimia. kesemua hal ini disebabkan kemampuan buffer dari material MSL-M yang berbasis biomaterial dan tanah vulkanik(Tabel 2).
Bagaimana material MSL-M2A dan MSL-M2B bekerja dalam menyerap polutan dalam limbah cair domestik rumah Makan dan home industri akan dijelaskan pada bab berikutnya dengan menggunakan persamaan korelasi dan regresi.
Gambar 2. 3, 4, dan Gambar 5. mengungkapkan bahwa Pengaruh MSL-M 1A-B sampai dengan MSL-M6A-B berpengaruh menurunkan kadar polutan dalam limbah cair Domestik Home Industri dibandingkan dengan sebelum diolah MSL-M dengan efisiensi pemindahan untuk BOD, T-N dan T-P berkisar 50% sampai 90% (Gambar 2).
Namun Gambar 2. Mengungkapkan bahwa MSL-M yang memenuhi kwalitas baku mutu untuk BOD (MSL-M2B>MSL-M5A) dimana penyebabnya dijelaskan oleh korelasi pada Tabel 2, 3 dan 4 yaitu korelasi negatif sangat nyata BOD dengan layer MSL-M berbentuk Batu Bata(BB) besar dan Layer BB kecil, struktur MSL-M berbentuk batu bata, lapisan permeabel MSL-M dari Abu Sekam, dan Jerami dan komposisi tanah campuran MSL-M dari Tanah vulkanik, arang kemiri dan pelet besi.
Tabel 3
Tabel 4
Gambar 2,3,4,5
Pada Gambar 2 . Untuk T-N (MSL-M2B> MSL-M2A> MSL-M4B> MSL-M1B> MSL-M5A> MSL-M6B) dimana penyebabnya dijelaskan oleh korelasi pada Tabel 3, 4 dan 5 yaitu korelasi negatif sangat nyata T-N dengan Layer BB besar,Layer BB kecil MSL-M, struktur batu bata MSL-M, lapisan permeabel abu sekam, Serbuk Gergaji, batu bata halus, Arang T. Kelapa, Jerami, dan komposisi tanah campuran MSL-M dari Tanah Vulkanik, Arang T, Kemiri, A.T Kelapa dan Pelet besi. Hasil ini hamper mirip dengan Gambar 6
Pada Gambar 2. Untuk T-P (MSL-M2B) dimana penyebabnya dijelaskan oleh korelasi pada Tabel 3, 4 dan 5 yaitu korelasi negatif sangat nyata T-P dengan layer lurus dan layer BB kecil, struktur batu bata, permeabel abu sekam, Tanah campuran MSL-M dari tanah Vulkanik, Arang T.Kemiri. Arang T. Kelapa dan Pelet Besi. Hasil ini hamper mirip dengan Gambar 7
Sedangkan Gambar 3. Menyajikan kenyataan bahwa efisiensi pemindahan untuk COD, TSS dan EC untuk limbah cair Home Industri Tahu berkisar 40% sampai 90% . MSL-M yang memenuhi kwalitas baku mutu untuk COD (MSL-M2B>MSL-M2A> MSL-M4B> MSL-M5A> MSL-M6B). Untuk TSS (MSL-M2B>MSL-M2A> MSL-M4B> MSL-M5A> MSL-M6B). Untuk EC (MSL-M1A-B sampai MSL-M6A-B) penyebabnya karena korelasi negatif sangat nyata layer, struktur, lapisan permeable dan tanah campuran MSL-M, bukti pada Tabel 3, 4 dan 5. Hasil ini hamper mirip dengan Gambar 8
Selanjutnya Gambar 4. Menyajikan kenyataan bahwa efisiensi pemindahan untuk NO2-N, NO3-N untuk limbah cair Home Industri Tahu 80 % sampai 90% dan pH berkisar 0% sampai 20 % . MSL-M yang memenuhi kwalitas baku mutu untuk NO2-N (MSL-M2A>MSL-M2B>MSL-M4B). Untuk NO3-N (MSL-M3B> MSL-M2B> MSL-M1A> MSL-M1B> MSL-M3A> MSL-M5B> MSL-M4B> MSL-M4A> MSL-M5A> MSL-M6A> MSL-M6B). Untuk pH (MSL-M3B> MSL-M2B> MSL-M1A> MSL-M1B> MSL-M3A> MSL-M5B> MSL-M4B> MSL-M4A> MSL-M5A> MSL-M6A> MSL-M6B) penyebabnya karena korelasi negative sangat nyata layer, struktur, lapisan permeable dan tanah campuran MSL-M bukti pada Tabel 3, 4 dan 5. Demikian juga Gambar 5. Menyajikan kenyataan bahwa efisiensi pemindahan untuk TGT, suhu 40 % sampai 85% dan ORP berkisar 0% sampai 200 %. Hasil ini hamper mirip dengan Gambar 9
Sebab terjadinya penurunan BOD dan COD setelah diolah MSL-M karena adanya biofilm maka mikroba ini menyerap dan kemudian mendekomposisikan bahan organik dalam limbah cair (Luanmannee. S. et al, 2001). COD menggambarkan bahan organik yang terdekomposisi dengan lambat, aerasi yang intensif bermanfat mengurangi COD (Luanmanee, S., et al, 2001). Efisiensi MSL-M memindahkan Nitrogen dari limbah sangat nyata dipengaruhi oleh aerasi dan suhu (Attanandana T. et al, 2002).
Terjadinya perubahan Nitrogen setelah diolah MSL-M Konsentrasi nitrat tertinggi selama periode aerasi disebabkan oleh oksidasi NH4+ - N dan inhibisi NO3-N (Nitrat reduksi) akan tetapi, dan total nitrogen penurunannya berkurang selama periode tanpa aerasi dibandingkan selama periode aerasi. (Wakatsuki T. et al, 1993). Efisiensi MSL-M dalam pemindahan total nitrogen tergantung pada apakah kondisi sistim aerobik atau anaerobik aerasi meningkatskan efisiensi MSL memindahkan N organik sampai 100%.(Attanandana, et al, 1997).
MSL-M efektif memindahkan pospor sebab kapasitas tanah dan pelet besi untuk adsobsi atau/ presipitasi pospor dari limbah cair (Attanandana, T. et al, 2000).. hal ini meningkatkan pembentukan ion Ferrous yang efektif mengikat pospor (Masunaga & Wakatsuki 1999, wakatsuki 2000).
Kesimpulan
(1) MSL-M (Multy Soil Layering Melafu) untuk mengolah Limbah Cair dan Home Industri Tahu dapat dibuat dari dengan struktur Batu Bata dengan komposisi Tanah Campuran (terdiri dari Tanah Vulkanik, Arang Tempurung kemiri, arang tempurung Kelapa dan pelet besi) dan lapisan permeable dari biomaterial (terdiri dari arang kulit kemiri (1A, 6A), arang tempurung kelapa(1B), abu sekam padi(2B), serbuk gergaji(2A), batu bata(3B,4B,6B), tongkol jagung(3A), batu bara(4A) , sekam (5B) dan Jerami(5A)).
(2)Kondisi optimum penyerapan polutan berdasarkan baku mutu dalam limbah cair home industri tahu dimiliki oleh MSL-M2B>MSL-M2A>MSL-M5A>MSL-M4B>MSL-M6B
(3)Efisiensi penghilangan polutan dalam Limbah cair Home industri tahu oleh MSL-M2B>MSL-M2A>MSL-M5A>MSL-M4B>MSL-M6B untuk parameter BOD(68,6%-86,1%), COD(97,2%-98,3%), TSS(96,7%-99,3%), T-N(87,75%-98,4%), T-P(53,0%-95,3%), NO2-N(93,8%-98,4%), NO3-N(94%-98%).
(4)Efisiensi penghilangan polutan dalam Limbah cair domestic Rumah Makan oleh MSL-M1A>MSL-M2B>MSL-M3B>MSL-M2A untuk parameter BOD(82,2%-99,2%), COD(82,5%-98,9%), TSS(15,6%-76,6%), T-N(76,48%-98,14%), T-P(83,2%-98,4%), NO2-N(59,01%-96,83%), NO3-N(59,0%-96,8%).
Saran
Dilakukan penelitian lanjutan terhadap MSL-M untuk di instal langsung di lokasi pabrik Home industri tahu atau domestik rumah Makan untuk mengolah limbah cair yang dihasilkan setiap hari.
Ucapan Terima Kasih.
Penghargaan yang tinggi kami sampaikan kepada Hibah Bersaing DIKTI Jakarta yang telah mendanai penelitian ini, tidak lupa terima kasih kami sampaikan kepada semua pihak yang secara langsung dan tidak langsung membantu kelancaran penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
Aflizar, Ismawardi . 2005. Pemanfaatan Tanah dan Biomaterial menjadi IPAL untuk pemurnian zat poluitan dalam Limbah cair Domstik . didanai DUE-LIKE Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh (Ketua)
Attanandana, T., B. Saithiti, S. hongpae, S. Kritapirom, T. Wakatsuki. 1997. Wastewaater treatment study, using the Multy-Soil-Layring system. In: Soil Quality Management and Agro-Ecosystem Health. proceedings of the Fourth International Conference of East and Southeast Asia Federation of Soil Science Societies, Nov. 1997. Cheju, Korea. pp 417-426
Attanandana, T., B. Saithiti, S. hongpae, S. Luanmanee, Kritapirom, T. Wakatsuki. 2000.Multi-media-layering system for food service wastewater treatment. Ecol. Eng. 15:133-138.
Luanmanee, S., T. Attanandana, T. Masunaga, T.Wakatsuki. 2001. the Efficiency of Multy –Soil-Layering system on domestic wastewater treatment during the ninth and tent year of operation. Ecol. Eng. 18, 2: 185-199.
Masunaga, T., T. Wakatsuki. 1999. High quakity water remediation by the Multy Soil Layering method. In : Chemistry for Protection of the Environment. Proceeding of the 12 th International Conference on Chemistry for Protection of the Environment, Nanjing University Press, Nanjing, China, pp. 303-309.
Wakatsuki, T., S. Luanmanee, T. Masunaga, T. Attanandana. 2000. High grade on-site treatment of domestic wastewater and poluited river water by Multy-Soil-Layering method. In: Managing Water and Waste in the New Millinium. Proceeding of the IWA (Int. Water Association) Conference, May 2000, Johannesburg south Africa.
Wakatsuki, T., H. Esumi, S. omura. 1993. Hight performance and N&P removable on-site domestic wastewater treatment system by Multy-Soil-Layering Method. Wat. Sci. Tech. 27, 1: 31-40
Friday, May 9, 2008
Subscribe to:
Comments (Atom)